Sabtu, 22 September 2012

MANFAAT MIKROTEKNIK DALAM BIDANG KESEHATAN,PENDIDIKAN DAN KESEHATAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mikroteknik merupakan ilmu kajian yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan penelitian. Masing- masing bidang memiliki peranan sesuai dengan hal- hal yang dibahas di bidangnya. Pengetahuan dasar mikroteknik diperlukan guna menghasilkan suatu kajian- kajian yang bersifat membantu dan  mengembangkan keahlian dalam penemuan hal- hal penting yang berhubungan dengan peran pendidikan, kesehatan dan penelitian dalam pengetahuan histologi.
Dengan membahas berbagai kemungkinan pengembangan teknik masa kini untuk keperluan masa datang dalam kajian mikroteknik, kiranyan dapat disadari manfaat dan peran mikroteknik dalam bidang pendidikan, penelitian dan kesehatan.
Pembahasan mengenai mikroteknik dalm bidang- bidang tersebut membawa kita  agar berusaha memahami fakta dan menjelaskam fakta dari berbagai sumber sehingga dapat diketahui manfaatnya dengan baik.
  1. Permasalahan
Dalam pemanfaatan mikroteknik untuk keperluan/ tujuaan tertentu baik di bidang pendidikan, penelitian dan kesehatan dibutuhkan upaya- upaya dan metode- metode yang banyak digunakan dan pada umumnya tidak dipahami oleh pihak pelajar mengenai manfaat apa saja yang diberikan mikroteknik dalam ketiga bidang tersebut. Terkadang juga  menimbulkan kesalahan dalam penempatan manfaat dari ketiga bidang tersebut. Untuk itulah perlu dipaparkan manfaat mikroteknik dalam bidang – bidang tersebut.
  1. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
·         Memberikan pemahaman mengenai perbedaan manfaat mikroteknik dalam bidang pendidikan, kesehatan dan penelitian.
·         Mengetahui sumber informasi tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ketiga bidang tersebut.
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu :
·         Memberikan/ menambah pengetahuan tentang pemanfaatan mikroteknik di bidang pendidika, kesehatan, dan penelitian.
·         Memberikan keterampilan dasar tentang dasar- dasar pembuatan preparat histologi.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 MANFAAT MIKROTEKNIK DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Pemanfaatan mikroteknik dalam bidang pendidikan telah dilakukan di berbagai jenjang pendidikan, khususnya jenjang Perguruan Tinggi.Mikroteknik merupakan suatu teknik atau metode pembuatan sediaan histologi yang dapat bersifat permanen(dapat diamati secara berulang- ulang) dan bersifat sementara (digunakan untuk satu kali pengamatan) yang biasanya akan diamati dengan mikroskop untuk berbagai macam tujuan atau keperluan.Sediaan yang digunakan untuk kegiatan pendidikan/ pembelajaran histologi normal atau patologis jaringan merupakan sediaan yang bersifat sediaan permanen.
Produk mikroteknik dapat digunakan untuk kegiatan praktikum di Sekolah Lanjutan dan/ atau di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa, dosen yang membutuhkannya.Guru atau pengajar yang dibekali dengan sediaan histologi akan lebih mudah menyampaikan materi pengajaran yang berhubungan dengan sel dan jaringan kepada peserta didik.Proses belajar-  mengajar ini akan semakin efektif lagi jika pengajar memahami bagaimana suatu sediaan histologi dibuat.
Sebagaimana kita ketahui, mikroteknik merupakan cara atau teknik yang hasilnya dapat dipakai untuk menunjang ilmu-ilmu baik zoology maupun botani, terutama anatomi, embriologi, serta histologi. Kita seringkali berpendapat bahwa mikroteknik senantiasa berurusan dengan proses yang mencakup mematikan makhluk hidup serta mempersiapkannya bagi penelaahan dengan bantuan mikroskop. Pada kenyataanya tidaklah selamanya demikian. Makhluk atau jaringan hidup dapat pula dipakai sebagai bahan siapan untuk dipelajari dengan bantuan mikroskop.
Teknik-teknik tertentu telah dirancang para ahli guna maksud untuk mempelajari tentang suatu jaringan tertentu. Salah satu metode yang digunakan adalah Whole mount. Whole mount merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan diamati dengan mikroskop dengan tanpa didahului adanya proses pemotongan. Jadi pada metode ini, preparat yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu. Image yang dihasilkan oleh preparat whole mount ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara umum saja.
Proses pengamatan terhadap suatu morfologi tanaman dapat dilakuakan dengan beragai cara. Salah satu diantaranya adalah dengan
membuat preparat awetan
dari tanaman yang akan diamati. Metode pembuatan preparat yang digunakan untuk pengamatan secara menyeluruh, artinya mempelajari struktur vegetatif dan reproduktifnya tanpa melakukan penyayatan terhadap tanaman tersebut karena metode ini menggunakan semua bagian tanaman sebagai preparatnya.
Whole Mount, metode ini sering diistilahkan karena pada pembuatan preparatnya menggunakan semua bagian tanaman yang akan diamati. Tentu saja tanaman yang diamati haruslah berukuran kecil sehingga dapat termuat pada objek glass. Sedangkan pada tanaman yang agak besar bisa dilakukan trimming (pemangkasan) agar menjadi lebih rapi dan kecil. Contoh dari tanaman yang bias dibuat preparat menggunkan preparat whole mount adalah lumut, sori paku, daun dengan trikoma dan daun dengan stomata. Proses pembuatan preparat dengan menggunakan metode ini adalah melalui beberapa tahap seperti fiksasi bertahap, penggunaan seri xylol berseri (10-20-30-40-50-60-70-80-90%) dalam alcohol absolute.
 Metode whole mount mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas tiap bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya biasa dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak biasa tanaman yang besar sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan bebagai percobaan.
Dengan adanya pemanfaatan mikroteknik ini dalam bidang pendidikan maka melalui kegiatan praktikum peserta didik dapat memahami struktur vegetatif maupun reproduktif  dari individi lumut tanduk (Anthoceros sp.) secara utuh (whole mount), sehingga praktikan dapat menambah pengetahuannya dalam membuat preparat lumut tanduk.
Lumut tanduk secara umum menyerupai tumbuhan lumut hati dan lumut sejati. Hal yang membedakan adalah pada lumut tanduk mempunyai thalus sederhana yang seragam dan struktur sporofit yang kompleks serta menghasilkan spora dalam waktu yang panjang. Berdasarkan jumlah genusnya, lumut tanduk termasuk kecil dan sering dijumpai sangat melimpah pada  tempat  basah  seperti pinggir sungai, tepi danau (Manhattan,2008).
Dengan pengetahuan dasar yang dimiliki peserta didik dalam proses pembuatan preparat histology, maka mereka diajak untuk memberikan penilaian nengenai hasil percobaannya dengan memaparkan kelebihan dan kekurangan preparat yang telah dibuatya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diperoleh image preparat lumut yang kurang maksimal. Hal ini dikarenakan terjadinya kesalahan kecil pada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan. Seperti pada tahapan fiksasi, dimungkinkan pada tahapan ini proses infiltrasi larutan FAA ke dalam preparat kurang maksimal sehingga preparat lumut yang akan diamati beberapa strukturnya mengalami kerusakan atau berubah. Selain pada tahapan fiksasi, dimungkinkan juga terjadi kesalahan pada tahapan dehidrasi karena pada gambar masih tampak terdapat cairan di dalam sel tumbuhan lumut. Pemberian mayer albumin yang terlalu banyak juga menimbukan kontras yang sangat rendah antara preparat dengan lingkungan sekitarnya.
Hal ini terjadi karena mayer albumin dapat mengikat zat pewarna yang sama dengan zat pewarna yang diikat oleh preparat bahkan bisa saja lebih dominan dibandingkan zat warna yang diikat oleh preparat.

II.2 MANFAAT MIKROTEKNIK DALAM BIDANG PENELITIAN
Pemanfaatan mikroteknik dalam bidang penelitian tidaklah asing lagi bagi para ahli- ahli yang ingin melakukan suatu percobaan mengenai suatu sel dan jaringan tertentu sesuai tujuan dan keperluan yang diharapkan. Bahkan bisa dikatakan menjadi hal yang penting untuk memudahkan pengamatan mengenai fungsi fisiologis sel seperti siklus sel, pembelahan sel, dan lain- lain.Untuk itu perlu pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang pembuatan sediaan histologi.
Untuk mempelajari sifat- sifat sel dan membedakan sel- sel yang mengalami perlakuan atau tidak mengalami perlakuan dalam percobaan tertentu maka sangat diperlukan penelitian yang lebih spesifik untuk tujuan diagnose, pewarnaan biologis, dan prosedur pewarnaan di dalam hubungannya dengan cahaya mikroskopis yang telah menjadi alat utama dalam pengamatan kondisi histologis organ yang diamati yang tentunya telah diambil dan dibuat  dalam bentuk preparat histologi.
Dengan menggunakan teknik pewarnaan tersebut, maka sampel jaringan atau organ atau mikroorganisme yang akan diteliti akan lebih mudah lagi diamati di bawah mikroskop. Metode ini sangat berguna dalam melakukan peneliti mikrobiologi atau jaringan atau organ. Misalnya, sebagai contoh yaitu dalam pembuatana preparat tentang organ insang dan organ dalam (hati dan pankreas)ikan Bandeng. Sampel yang diambil adalah sayatan tipis dari jaringan organ tersebut.. Untuk dapat membedakan lebih mudah tentang kondisi sel dan jaringan dari organ tersebut, maka kita dapat menggunakan teknik pewarnaan pada jaringan itu.
Dalam penelitian ini tidak  terlepas dari salah satu penggunaan metode mikroteknik untuk mengamati kondisi histologis suatu jaringan.Seperti masalah yang terjadi pada lingkungan perairan yang mengalami pencemaran berbagai bahan esensial dan nonesensial yang dapat terjadi pada badan air dalam lingkungan perairan yang memperlihatkan kerusakan insang dan organ dalam (hati dan pancreas) pada juvenile ikan bandeng yang tercemar logam timbale(Pb).
Dari hasil pengamatan preparat histologi ikan bandeng  yang telah tercemar logam timbale pada konsentrasi yang berbeda menunjukkan kondisi histologis yang berbeda pula.Kerusakan lamella insang terjadi sejalan dengan semakin tingginya konsentrasi logam timbal.kerusakan yang terjadi mengakibatkan system respirasi ikan terhambat dan pada akhirnya mapu menyebabkan kematian ikan. Selain itu, pada konsentrasi tertentu menyebabkan hati dan pancreas menjadi rusak.
Lamella insang mengalami hipertropi, hyperplasia, dan nekrosis berturut- turut berdasarkan peningkatan konsentrasi Pb ; 0,05 ppm, 0,1 ppm, danm 0,15 ppm, dimana kerusakan – kerusakan tersebut menyebabkan kematian juvenile ikan banding. Hati mengalami perubahan dari cloudy swelling menuju ke degenerasi lemak. Sedangkan pada pancreas dengan pemaparan Pb konsentrasi 0,05 ppm dalam kondisi normal.pankreas mengalami perubahan berupa dekstruksi proteolitik pada konsentarsi Pb 0,1 ppm dan nekrosis lemak pada konsentrasi 0,15 ppm.
Dalam hal ini mikroteknik bermanfaat dalam mengkaji informasi  mengenai berbahayanya logam terhadap kehidupan organisme perairan melalui pengamatan hasil preparat histologi juvenil ikan bandeng yangtercemar timbal.

II.3 MANFAAT MIKROTEKNIK DALAM BIDANG KESEHATAN

Penyakit akan menyebabkan terjadinya kelainan pada jaringan. Kelainan yang terjadi tersebut merupakan hal yang penting pada penelaahan patologis. Baik specimen hewan maupun tumbuhan umumnya memerlukan penelaahan secara mikroskopis untuk dapat mengidentifikasikan jenis penyakit yang dapat menyebabkan kelainan patologis tadi. Tumor dan infeksi merupakan penyebab utama terjadinya kelainan pada jaringan. Tumor pada manusia, hewan, dan tumbuhan umumnya tidak menular pada manusia, sehingga tidak berbahaya dalam menganganinya. Bagian utama atau tertua suatu tumor biasanya merupakan jaringan yang sudah mati atau dalam proses kematian, sehingga bagian tersebut bukan merupakan bagian baik untuk menelaah perbedaan pertumbuhan normal dan tidak normal.
Dalam hal ini mikroteknik dalam bidang pendidikan   berperan / bermanfaat untuk mendiagnose suatu penyakit.Contoh yang paling mudah kita amati untuk mendiagnosa suatu penyakit adalah melalui darah pada penyakit malaria. Dengan membuat sediaan darah dari manusia maka dapat diamati dan dibandingkan kondisi histologis darah yang normal dengan darah seseorang yang terkena penyakit malaria melalui sediaan apusan darah(metoda sediaan ulas).
Secara umum, jenis cairan yang berisikan sel- sel ataupun komponen – komponen tertentu, melaluiu metode sdiaan ulas ini akan dapat ditelaah dengan bantuan mikroskop. Sediaan ulas dapat diperoleh dengan melalui remasan (squashing), dapat pula melalui tekanan tisu oleh kaca preparat bersih sehingga tisu tadi akan melekat danmanakala gelas preparat tadi diangkat secara langsung maka berbagai elemen selnya akan ikut terangkat untuk ditelaah. Cara ini hanya dilakukan bagi jenis tisu yang sel- selnya mudah lepas seperti sumsum tulang (bone marow).cara demikian dikenal dengan metoda ulasan impresi (impression smear). Jenis- jenis tisu lain misalnya kelenjar – kelenjar, syaraf dan bagian- bagian permukaan tisu yang terluka, rusask karena proses yang patologis sifatnya dan lainnya.
Secara umum, jenis tisu yang biasa ditelaah melalui metode ulas ini adalah : darah, limfa, cairan sumsum tulang belakang (liquor cerebospinalis), semen jantan, sediaan air seni, serta beberapa lainnya. Masing- masing biasanya memerlukan teknik perlakuan tersendiri dalam melakukan pengulasan atau penyebarannya pada kaca preparat. Untuk jenis cairan yang mengandung suspensi yang tinggi densitasnya umumnya dicairkan dengan air ataupun serum darah dengan perbandingan 1 : 5 atau 1 : 10. teknik sediaan ulas.

Adapun langkah – langkah dalam pembuatan apusan darah adalah sebagai berikut :
Pertama dipilih jari manis sebelah kiri kemudian ditusuk dengan jarum lancet yang sebelumnya ditetesi alkohol 70%. Pemilihan jari manis karena jari tersebut mengandung banyak komponen-komponen darah dan lebih mudah menggumpal sehingga bisa secepatnya dilihat golongan darahnya. Pemakaian jarum lancet berguna untuk menyobek kulit dan mengalirkan darah yang akan dijadikan preparat apusan. Darah manusia digunakan sebagai preparat karena lebih mudah dan sesuia dengan tujuan asli preparat apusan yang pertama kali adalah untuk mengidentifikasi adanya penyakit malaria. Digunakan alkohol 70% adalah untuk sterilisasi kulit agar tidak mengkontaminasi preparat. Tetes-tetes pertama 2-3 dihapus dengan kertas penghisap karena mengandung alkohol sehingga mempengaruhi preparat apus dan digunakana tetesan selanjutnya karena mengandung darah yang segar. Kemudian gelas objek diletakkan pada sisi atau tepinya yang pendek di muka tetes darah tersebut, lalu ditarik ke belakang sedikit sampai menyentuh lingkaran darah tersebut sehingga kapiler yang menyebarkan darah merata ke kiri dan ke kanan tepi gelas objek pertama. Sudut di antara keduanya gelas objek sebaiknya 450 bertujuan untuk meratakan darah pada gelas objek agar tidak tebal maupun tipis. Selanjutnya gelas objek didorong maju ke depan, dengan kekuatan dan kecepatan yang sama agar didapatkan film darah yang tipis dan sama rata karena arah mendorong yang dilakukan menentukan hasil dari apusan darah (Jasmina, 2008).
Setelah itu preparat apusan yang telah dikeringkan  ke udara, difixir terlebih dahulu dengan metil alkohol selama 5 menit. Metil alkohol berfungsi sebagai larutan fiksatif yaitu mematikan sel tanpa merusak komponen-komponen darahnya. Kemudian diwarnai dengan pewarna giemsa agar menyerap bagian-bagian darahnya. Perendaman selama 30 menit agar warnanya terserap dengan baik. Langkah selanjutnya perparat yang telah diwarnai dicuci dengan air mengalir selama 5 menit agar hilang bekas pewarna sehingga mudah diamati dengan mikroskop (Medic, 2008). Selanjutnya preparat tersebut dikeringanginkan dan terakhir diamati butiran-butiran darahnya.
Mikroteknik sangat diperlukan dalam bidang kesehatan. Khususnya dalam metoda pewarnaan Pianese III B. Ini merupakan jenis pewarnaan yang setelah dipublikasikan terus semakin luas cakupan penggunaannya. Semula metode ini diciptakan oleh Pianese khusus bagi penelitian jenis-jenis jaringan tanaman yang terkena infeksi jamur. Setelah itu dikembangkan dalam bidang kedokteran guna penelitian jenis-jenis kanker pada manusia. Keistimewaan lain dari jenis atau metode pewarnaan ini adalah bahwa metode ini merupakan salah satu contoh penggunaan tiga jenis pewarnaan yang sekaligus dicampur dalam satu jenis larutan.
Semua metode pewarnaan ini dikhususkan bagi pewarnaan bakteri dan jenis jaringan yang patalogis sifatnya, metode ini masih banyak digunakan pada penelitian laboratorium dan masih selalu tercantum pada buku-buku tentang mikroteknik. Metode pewarnaan ini lebih banyak dikenal dan dimanfaatkan baik pada kesehatan masyarakat maupun pada militer daripada laboratorium penelitian biasa. Metode ini memberikan hasil yang cepat dan terkadang dengan kontras yang lebih baik daripada dengan pewarnaan Giemsa.

Dari semua metode yang ada, maka metode yang paling banyak digunakan oleh para ahli bakteri maupun ahli penyakit adalah yang dikenal dengan metoda pewarnaan Gram bagi bakteri. Pada mulanya metode ini merupakan metode pewarnaan tunggal yang hanya akan mewarnai organisme yang bersifat Gram positif. Kemudian metode ini diperluas penggunaannya dengan menambahkan pewarna lain yang bertindak sebagai pewarna banding (counter stain) yang akan dapat mewarnai bakteri yang bersifat Gram negatif.

Metode pewarnaan ini dapat diaplikasikan baik pada metode ulas (smear) maupun pada metode sayatan. Bila diaplikasikan pada metode ulasan, maka umumnya kaca preparat diletakkan secara horizontal.


















BAB III
PENUTUP
III.1 SIMPULAN
·               Mikroteknik memiliki manfaat yang besar dalam membantu pengamatan mengenai sel dan jaringan, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun dalam bidang kesehatan.
·               Whole mount merupakan metode pembuatan preparat tanpa didahului adanya proses pemotongan, sehingga memiliki kelebihan dan kekurangan.
·               Dalam memudahkan pengamatan kondisi histologis suatu sel dan jaringan maka jaringan yang mengandung sel itu harus dibuat jadi sediaan atau preparat mikroskopik terlebih dahulu.
·               Teknik untuk membuat sediaan ini disebut teknik mikro (mikroteknik)dimana jarinna disayat tipis dengna mikrotom, dilakatkan pada gelas objek, diwarnai, ditutup dengna gelas penutup, dan akhirnya direkat sehingga menjadi awet guna pengamatan berulang- ulang.
·                Dengan menggunakan teknik pewarnaan tersebut, maka sampel jaringan atau organ atau mikroorganisme yang akan diteliti akan lebih mudah lagi diamati di bawah mikroskop

III.2 SARAN
·               Dalam penerapan mikroteknik dalam bidang pendidikan sebaiknya peserta didik memahami dasar- dasar pengetahuan mikroteknik untuk proses kegiatan praktikum di laboratorium secara langsung.
·               Untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam mengenai mikroteknik dalam bidang pendidikan sebaiknya peserta didik diperkenalkan alat- alat dan bahan- bahan yang ada di dalam laboratorium mikroteknik tersebut.






DAFTAR PUSTAKA

Gunarso, Wisnu.         . Mikroteknik. Departemen pendidikan dan kebudayaan direktorat jendral pendidikan tinggi pusat antar universitas ilmu hayat institute pertanian bogor : Bogor.
Mohamad, K., I. Djuwita, B. Arief, S. Imam. 2005. Vitrivikasi ovarium mencit menggunakan etilen glikol dan dmso sebagai krioprotektan dan viabilitasnya pasca autotransplantasi di subkapsula ginjal. Media Kedokteran Hewan (21)1: 23-27
Suntoro, Handari. 1983. Metode Pewarnaan (histology dan histokimia). Bharata Karya Aksara : Jakarta


SERANGGA


BAB I
PENDAHULUAN
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di muka bumi sekarang ini. Dalam jumlah, mereka mereka melebihi semua hewan melata darat lainnya dan praktis mereka terdapat di mana- mana. Beberapa ratus ribu jenis yang berbeda- beda telah diuraikan lebih banyak daripada sisa dunia hewan.
Kelompok insekta disebut juga heksapoda (kakinya berjumlah enam) merupakan kelas yang terbesar di dalam filum artropoda. Memiliki anggota mencapai kurang lebuh 80 % atau 675.000 spesis dari kehidupan hewan yang terbesar di seluruh penjuru dunia, yang penyebarannya sangat meluas dengan juimlah anggota paling besar di alam. Habitatnya di darat, air tawar, tanah/ lumpur dan di dalam tumbuh- tumbuhan. Ilmu yang khusus mempelajari tentang serangga disebut dengan entomologi.
Pengetahuan tentang anatomi penting untuk mengetahui bagaimana serangga hidup dan mereka dapat dibedakan antara serangga yang satu dengan yang lainnya dan dengan hewan yang lainnya.Untuk mempelajari anatomi serangga sering digunakan anatomi belalang (Orthoptera)  karena anatomi belalang merupakan anatomi dasar. Secara umum anatomi belalang memiliki karakter yang dapat mewakili anatomi umum seekor serangga. Tubuh belalang dapat dibedakan menjadi kepala, dada, dan abdomen. Belalang memiliki dua pasang sayap, tiga pasang kaki, dan sepasang antena. Cici- ciri tersebut merupakan anatomi umum yang membedakan seekor serangga dengan hewan lainnya.
Serangga makan hampir makan segala macam, tidak terbatas makanan , dan mereka makan dalam bannyak cara yang berbeda- beda. Ribuan jenis makan tumbuhan, secara praktis tiap- tiap macam- macam tumbuhan (di darat atau dalam air tawar) dimakan oleh berbagai jenis serangga. Serangga pemakan tumbuhan makan hampir setiap bagian tumbuhan; ulat, kumbang daun, dan kutu lon cat makan daun, aphid makan batang, lundi- lundi putih makan akar, kumbang moncong panjang tertentu dan larva ngengat makan buah- buahan, dan sebagainya. Serangga- serangga ini dapat makan bagian luar tumbuh- tumbuhan, atau mereka dapat menggali lubang masuk dalam tumbuhan. Ribuan serangga bersifat karnivor, makan hewan- hewan lain, beberapa adalah pemangsa, dan sejumlah serangga adalah parasit. Banyak serangga yang makan vertebrata adalah penghisap darah; beberapa dari serangga ini, seperti nyamuk, kutu pinjal, dan kepinding tertentu, tidak hanya hama yang mengganggu karena gigitan mereka, tetapi dapat bertindak sebagai vektor- vektor penyakit. Beberapa serangga makan kayu yang disimpan; beberapa lainnya makan berbagai bahan pakaian; dan banyak serangga makan bahan yang sedang membusuk.
Tawon- tawon penggali mempunyai metode menyimpan makanan yang menarik yang dikumpulkan dan disimpan untuk anak- anak mereka. Tawon- tawon ini menggali lubang di dalam tanah, melengkapi mereka dengan suatu tipe korban tertentu (biasanya serangga – serangga lain atau laba- laba) dan kemudian meletakkan telur- telur mereka (biasanya pada tubuh seekor hewan korban).Banyak serangga akan menimbulkan suatu gigitan yang menyakitkan bila dipegang. Gigitan tersebut mungkin hanya sebagai suatu cubitan yang sakkit karena geraham- geraham yang kuat, tetapi gigitan nyamuk, pinjal, lalat- lalat hitam, serangga- serangga pembunuh, dan banyak lainnya adalah seperti suntikan jarum suntik; rangsangan itu disebabkan karana air liur yang diinjeksikan pada waktu gigitan tersebut.
Ekskresi merupakan proses yang terlibat dalam homeostasis yang tarjadi pada makhluk hidup, termasuk serangga.preses tersebut memungkinkan serangga mampu memprtahankan kekonstanan medium dalam (lingkungan dalam) meskipun lingkungan luarnya mengalami perubahan . Ekskresi merupakan eliminasi atau pengeluaran zat buangan hasil metabolisme dari tubuh serangga. Produk ekskresi utama pada hewan tidak semata- mata merupakan zat buangan  dan tidak bermanfaat bagi tubuh, tetapi kenyataannya banyak produk ekskresi yang berguna bagi tubuh sebelum diekskresi.Asam urat merupakan zat ekskresi pada insekta. Asam urat dapat disimpan di dalam sel, jaringan atau alat tubuh tanpa menimbulkan dampak dalam masalah keracunan, hanya memerlukan sedikit air untuk mengekskresiknnya.
Pada insekta, sistem peredaran darahnya terbuka, yaitu suatu sistem dimana darah yang dipompa oleh jantung kemudian beredar melalui rangkaian pembuluh darah arteri menuju ke ruang terbuka yang dikenal dengan nama hemocoel atau blastocoel. Ruang terbuka ini pada umunya terletak di antara ektoderm dan endoderm. Cairan yang terdapat di dalam hemocoel disebut hemolimf yang tidak beredar melalui pembuluh darah kapiler, tetapi langsung menggenangi sel- sel.Ciri utama dari sistem peredaran darah terbuka adalah mempunyai kemampuansangat terbatas untuk mengubah kecepatan dan penyebaran aliran darah. Akibatnya pengubahan pengambilan oksigen berjalan lambat dan jumlah maksimum laju pemindahan oksigen setiap satuan berat badan adalah kecil. Pada insekta, masalah ini dihindari dengan melibatkan sistem trakhea dimana pengangkutan O2 dan CO2 dapat langsung menuju ke sel – sel jaringan melalui pipa yang berisi udara.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 SISTEM PENCERNAAN
Serangga makan hampir segala zat organik yang terdapat di alam, dan sistem- sistem pencernaan meraka menunjukkan variasi yang besar.Sistem pencernaan pada serangga dilengkapi dengan adanya saluran pencernaan dan beberapa kelenjar yang berhubungan dengan salura pencernaan, misalnya kelenjar ludah, gastric caeca dan tabung Malpighi.
Saluran pencernaan serangga berbentuk suatu saluran, biasanya agak berkelok, yang memanjag dari mulut sampai anus.Saluran pencernaan dibagi tiga bagian :
1.      Foregut (stomodeum) – usus bagian depan
2.      Midgut (mesenteron) – usus bagian tengah
3.      Hind gut (proctodeum) – usus bagian belakang
Kedua usus depan dan belakang berasal dari jaringan ektoderm dan dilapisi sebelah dalamnya oleh satu lapisan tipis kutikula yang disebut intima. Kutikula ini dikelupaskan pada setiap ganti kulitbersama- sama dengan bagian luar eksoskeleton.
Di antara stomodeum (foregut) dan masentron (midgut) terdapat katup cardiac valve (stomadeal) sedangkan antara mesenteron (midgut) dan proctodenum (hindgut) terdapat katup pyloric valvae (proctodeal).

II.1.1 Foregut (stomodeum)
Usus bagian depan merupakan organ untuk menyimpan makanan, akan tetapi juga berfungsi untuk menghancurkan dan mencampur makanan.
Kebanyakan serangga memiliki sepasang kelenjar yang terletak di bawah bagian anterior dari saluran pencernaan. Saluran – saluran dari kelenjar ini memanjang ke depan dan bergabung menjadi satu saluran umum dan bermuara dekat dasar labium atau hipofaring. Kelenjar – kelenjar labium ini (dinamakan demikian karena mereka bermuara pada dasar labium) biasanya berfungsi sebagai kelenjar – kelenjar air liur. Seringkali terdapat pembesaran saluran dari masing – masing kelenjar yang berfungsi sebagai satu penampung bagi sekresi air liur.Kelenjar – kelenjar labium pada larva Lepidoptera, Trichoptera, dan Hymenoptera mengeluarkan sutera, yang dipakai dalam pembuatan kokon dan tempat berlindung dan dalam penghimpunan makanan oleh Trichoptera penganyam benang jaring.
Usus depan biasanya dibedakan menjadi faring (phyx, tepat di belakang mulut), esofagus, (eso, saluran ramping yang memanjang ke bagian balakang faring), crop (cp, pembesaran bagian belakang usus depan), dan proventrikulus. Pada ujung posteriornya terdapat kelep stomodaeum, yang mengatur jalannya makanan antara usus depan dan usus tengah. Pada beberapa kelompok, seperti lipas dan rayap, proventrikulus mungkin mengandung perlengkapan gerigi di bagian dalam, gerigi ini dipergunakan selanjutnya untuk menggilas sebelum makanan masuk usus tengah. Intima disekresikan oleh epitel usus dapan dan secara relatif impermeabel (tak tembs cairan). Intima dan epitelium seringkali terdapat secara longitudinal. Sebelah luar epitelium itu adalah suatu lapisan bagian dalam urat – urat daging longitudinal dan suatu lapisan luar urat – urat daging sirkuler.Kadang – kadang urat – urat daging longitudinal mempunyai penyelipan (insersio)pada intima. Bagian usus depan diperlengkapi dengan urat – urat daging pembuka, yang asal – usulnya pada dinding- dinding dan apodema – apodema kepala dan thoraks dan penyelipan – penyelipan mereka pada lapisa – lapisan urat daging stomodeum, ephitelium atau intima. Ini paling bagus berkembang di daerah faring pada serangga – serangga penghisap, dimana mereka mengubah faring menjadi suatu pompa penghisap.Tembolok dikhususkan untuk penyimpanan makanan sementara. Tembolok mungkin satu pembesaran usus depan yang sederhana, atau seperti pada nyamuk dan Lepidoptera, tembolok adalah suatu penonjolan lateral saluran pencernaan. Sedikit atau tidak, ada pencernaan makanan terjadi di dalam  usus depan.

II.1.2 Midgut (mesenteron)
Usus tengah (midgut) biasanya adalah suatu saluran yang memenjang yang agak seragam garis tengahnya, kadang – kadang dibedakan menjadi dua tau lebih bagian– bagian. Usus tengah seringkali mengandung divertikula yaitu saluran- saluran buntu gastrium dekat ujung anteriornya.usus tengah tidak dilapisi kutikula. Lapisan epitel usus tengah terlibat dua fungsi yaitu sekresi enzim- enzim pencernaan ke dalam lumen- lumen dan penyerapan produk- produk pencernaan ke dalam tubuh serangga. Sel- sel epitel individual usus tengah hanya berumur pendek dan secara tetap akan diganti. Sel- sel yang membagi diri ini mungkin tersebar di seluruh usus tengah , atau mungkin terpusat sebagai kantung- kantung pertumbuhan. Daerah- daerah demikian kadang- kadang terlihat dari lumen usus sebagai kripta- kripta yang melekuk ke dalam dan dari sisi bagian luar sebagai penonjolan- penonjolan (disebut nidi).Usus tengah merupakan tempat utama pencernaan dan penyerapan dalam saluran pencernaan. Pada banyak jenis, epitel usus tengah dan makanan dipisahkan oleh suatu selaput peritrofik suatu jaring permeabel yang tidak hidup terbuat dari khitin dan protein yang disekresikan oleh epitelium, tipis, dapat dilalui oleh air tetapi benda padat akan tertahan. Fungsi selaput peritrofik tidaklah jelas. Mungkin bertindak untuk membatasi kerusakan epitelium untuk menghambat gerakan patogen- patogen dari makanan menuju jaringan- jaringan serangga, atau sebagai suatu sarana yang memisahkan ruang – ruang endo- dan ektoperitofik; di dalam tempat itu dapat terjadi kekhususan pencernaan.Selaput ini selalu diganti dan menyelaputi bolus makanan seraya bolus makanan tersebut berjalan ke belakang. Selaput peritrofik ini merupakan buluh atau pipa (tube)yan tidak terputus- putus dan dihasilkan oleh sel- sel di daerah klep stomodeum (pada lalat dan larva nyamuk) atau oleh sel- sel yang menghasilkan usus bagian tengah (misalnyan belalang).
Usus bagian tengah merupakan bagian yang penting dalam proses pencernaan dan penyerapan makanan., yaitu pada daerah ventrikulus (stomach).Pada daerah mesenteron terdapat gastric caeca (usus buntu) yang bentuknya seperti jari dan terletak di anterior dari ventrikulus dan menghasilkan enzim- enzim pencernaan.Kantung ini juga penuh mikroorganisme yang membantu proses pencernaan makanan  Usus bagian tengah biasanya bersifat basa dibandingkan dengan isi dari usus bagian depan.

II.1.3 Hind gut (proctodeum)
Usus bagian belakang biasanya berupa tabung yang sederhana dan mengalami pembesaran untuk membentuk rektum pada baguan ujungnya.Pada bagian dapannya dekat dengan klep proctodeum, terdapat buluh- buluh Malpighi yang menuangkan cairannya ke lumen. Pada usus bagian belakang terdapat lapisan yang tipis dan terdiri dari kutikula tanpa diperlengkapi dengan duri apapun, tetapi terdapat bantalan rectum atau papillae. Fungsi struktur ini tidak jelas akan tetapi pada serangga yang hidup di darat rupa- rupanya sebagai organ penyimpan air dengan jalan menyerap yang terdapat pada isi usus dan selanjutnya dikembalikan ke dalam tubuh.
Usus belakang meluas dari kelep pilorus, yang terletak antara usus tengah dan usus belakang, sampai dubur. Di sebelah posterior ditunjang oleh urat- urat daging yang meluas sampai dinding abdomen. Usus belakang biasanya dibedakan paling tidak menjadi dua daerah, usus bagian depan dan usus bagian belakang (rec).Usus bagian depan mungkin suatu pipa sederhan, atau terbagi lagi menjadi ileum anterior(il) dan kolon posterior (cn). Buluh- buluh malpighi (mt) sebagai organ ekskretoris, timbul pada ujung anterior usus belakang, dan kandungan – kandunga meraka tercurahkan ke dalamnya. Usus belakang adalah tempat terakhir untuk penyerapan kembali air, garam- garam dan zat- zat makanan apapun dari tinja dan air seni.poros usus pada beberapa jenis mempunyai bantalan- bantalan poros usus yang besar dan tebal yang penting untuk mengambil air dari tinja.
Serangga memiliki bermacam- macam enzim pencernaan. Beberapa enzim itu adalah amiylase, maltase, invertase, peptidase, triptase, dan lipase. Enzim- enzim tersebut mampu memecahkan molekul yang lebih besar menjadi bagian yang lebih kecil yang dapat dipergunakan tubuh.serangga yang makan benda- benda padat mempunyai enzim yang lebih banyak dibandingkan serangga yang dietnya terdiri dari cairan.
Rongga penyaringan adalah suatu modifikasi saluran pencernaan yang di dalamnya dua bagian yang berjarak normal terikat berdekatan satu sama lain oleh jaringan pengikat, rongga penyaringan terdapat pada banyak Homoptera dan agak beragam dalam bentuk pada anggota yang berbeda ordo itu. Homoptera hidup dari cairan – cairan tumbuh- tumbuhan, yang biasanya mereka makan dalm jumlah yang besar. Rongga penyaringan diperkirakan sebagai suatu alat yang membiarkan air dari cairan tumbuhan yang tertelan lewat langsung dari bagian depan usus tengah ke usus belakang, jadi mengumpulkan cairan tumbuhan sebelum mencernakannya di bagian usus tengah. Cairan yang berkelebihan keluar lewat dubur sebagai embun madu (honey dew). Namun karena embun madu seringkali mengandung banyak karbohidrat dan asam- asam amino, ada beberapa keraguan tentang fungsi yang sebenarnya rongga penyaringan itu.

II.2 Proses Pencernaan Makanan Pada Serangga
Pencernaan adalah proses perubahan makanan secara kimiawi dan fisik sehingga zat makanan dapat diserap dan memeberi makanan berbagai bagian tubuh.proses ini dapat mulai bahkan sebelum makanan ditelan, tetapi biasanya terjadi bila zat- zat yang tertelan lewat melalui saluran pencernaan . Makanan- makanan padat dipecahkan oleh berbagai cara mekanis (terutama bagian- bagian mulut dan geligi proventrikukus), dan semua makanan dipengaruhi sekelompok enzim ketika mereka lewat melalui saluran pencernaan.
Serangga makan sejumlah besar berbagai hewan yang hidup, yang mati dan hewan- hewan yang sedang membusuk, tumbuh- tumbuhan, jamur, dan produk- produk mereka. Dalam beberapa hal cairan- cairan seperti darah atau cairan- cairan tumbuhan merupakan persediaan seluruh makanan mereka.
Sistem pencernaan sangat beragam sesuai dengan macam- macam makanan yang dimakan. Kebiasaan – kebiasaam makan bahkan mungkin sangat beragam pada satu jenis tunggal. Larvae dan dewasa biasanya mempunyai kebiasaan-kebiasaan makan yang sama sekali berbeda dan berbeda pula sistem- sistem pencernaannya. Pada pembahasan kali ini akan diambil beberapa contoh saja untuk menerangkan bagaimana proses  masuknya makanan pada tubuh serangga yang makanannya padat (belalang) dan serangga yang makanannya berbentuk cairan.

Ø   Belalang
Bagaimana cara masuknya makanan pada belalang? Mula- mula makanan yang berupa padat dicerna dulu di daerah praoral. Praoral dibentuk oleh labrum bagian anterior mandibula, bagian lateral maksila (maxilla), dan labium anterior.
Makanan dikunyah oleh mandibula dan maksila dan dilumatkan oleh enzim yang dikeluarkan bersama air liur (saliva) yang berasal dari kelenjar labium. Setelah makanan berbentuk bolus makanan ditelan ditelan melalui faring dan esofagus dengan bantuan konttaksi otor peristaltik. Pada serangga primitif seperti kutu buku (spring tails), bolus makanan langsung masuk ke mesentron. Untuk serangga yang lebih tinggi tingkatannya misalnya belalang, pada daerah posterior stomodeum terdapat tembolok (crop) dan proventrikulus. Pada ujung posteriornya terdapat katup stomodeum yang berfungsi sebagai pengatur jalannya makanan antara stomodeum dan mesentron.Dinding stomodeum dan proctodeum mengandung kutikula (intima) sehingga tidak terjadi absorpsi makanan  . Makanan dari proventrikulus kemudian masuk ke mesenteron yaitu ventrikukus. Pada saat makanan berada di ventrikukus, gastric cacea mengeluarkan enzim pencernaan, misalnya proteinase (enzim untuk mencernakan protein), karbohidrase (enzim untuk mencernakan karbohidrat) dan lipase (enzim untuk mencernakan lemak).
Makanan yang sudah dicerna diabsorbsi oleh ventrikulus, karena dinding ventrikukus (mesenteron) tidak dilapisi kutikula (intima) sehingga mampu menyerap zat makanan.Dinding ventrikulus dilapisi oleh selaput peritrofik, suatu jaringan permeabel yang terbuat dari zat kitin dan protei yang disekresikannn oleh epitelium ventrikulus.Fungsi selaput peritrofik belum jelas. Mungkin bertindak untuk membatasi kerusakan epitelium dari serangan patogen yang masuk terbawa oleh makanan.
Selanjutnya sisa makanan akan masuk ke proktodeum melalui katup pylorus yang membuka dan makanan bergerak ke posterior masuk ke intestinum. Pada daerah intentinum terjadi penyerapan air dan garam- garam mineral yang tersisa. Makanan yang sudah mengalami penyerapan air akan membentuk kotoran yang kental (fecal pelet) dan akan dikeluarkan melalui anus.

Ø   Serangga Yang Makanannya Berupa Cairan
Pada serangga yang makanannya berbentuk cairan, sistem pencernaannya mengalami modifikasi sesuai dengan tipe mulutnya atau jenis cairan makanannya. Modifikasi ini terjadi pada bentuk saluran pencernaan dan tembolok. Biasanya serangga menghisap cairan sebanyak mumgkin untuk pemenuhan nutrien, adanya kelebihan tersebut akan mempengaruhi osmoregulasi. Untuk menghindari ketidakseimbangan, pada daerah proventrikukus terdapat kantung filter (filter chamber) yang berfungsi untuk melarutkan makanan sehingga pencernaan berjalan efektif tanpa mengganggu osmoregulasi.

Serangga hampir makan segala zat organik yang terdapat di alam, dan sistem- sistem pencernaan mereka menunjukkan variasi yang besar. Berdasarkan tipe makananannya, serangga dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu :
1.      Fitophagus, yaitu serangga pemakan tumbuhan, baik berupa akar, batang, daun dan segala sesuatu yang berasal atau dihasilkan oleh tumbuhan.
2.      Zoophagus, yaitu serangga pemakan hewan lain baik vertebrata maupun invertebrata. Serangga yang bersifat predator da parasit termasuk ke dalam kelompok ini.
3.      Saprophagus, yaitu serangga pemakan materi organik atau organisme lain yang telah mati.
4.      Omnivorus, yaitu serangga pemakan hewan maupun tumbuhan.
Kebanyakan serangga mengambil makanan masuk ke tubuh melalui mulut. Beberapa larva yang hidup secara endoparasitik pada hewan indung semang mampu menyerap makanan melalui permukaan tubuh- tubuh mereka dari jaringan- jaringan induk semang.banyak serangga mempunyai mandibel- mandibel pengunyah dan maksilae yang memotong, menghacurkan, atau menggerus zat- zat makanan dan mendesak mereka masuk ke dalam faring. Pada serangga- serangga penghisap, fungsi- fungsi faring sebagai suatu pompa yang membawa makanan cair melalui probosis ke dalam esofagus. Makanan digerakkan sepanjang saluran pencernaan oleh aksi peristaltik.
Saliva (air liur) biasanya ditambahkan pada makanan, baik ketika makanan masuk saluran makanan atau sebelumnya, seperti halnya pada banyak serangga yang menginjeksikannyake dalam cairan- cairan yang mereka resap sebagai makanan. Air liur biasanya dihasilkan olek kelenjar- kelenjar labium. Kelenjar- kelenjar labium dari banyak serangga menghasikan amilase. Pada lebah tertentu, kelenjar- kelenjar ini menyekresikan invertase, yang kemudian diambil masuk ke dalam tubuh dengan air madu.Pada serangga- serangga  penghisap darah seperti nyamuk, air liur biasanya tidak mengandung enzim- enzim pencernaan, tetapi mengandung suatu substansi yang mecegah pembekuan darah dan konsekuensi mekanisme penyumbatan saluran makanan.Air liur inilah yang menyebabkan rangsangan yang dihasilkan oleh gigitan serangga penghisap darah.
Banyak serangga mengeluarkan enzim- enzim pencernaan terhadap makanan, dan sebagian pencernaan dapat terjadi sebelum makanan ditelan.larvae lalat daging mengeluarkan enzim- enzim proteolitikpada makanan mereka, dan afid- afid menginjeksikan amilase ke dalam jaringan – jaringan tumbuh- tumbuhan dan karena itu mencerna tepung dalam tumbuhan. Pencernaan di luar usus dapat terjadi pada perampokan korban larvae undur- undur dan kumbang- kumbang penyelam pemangsa dan pada kepinding hemiptera yang makan biji- biji kering.
Kebanyakan pencernaan kimiawi dari makanan terjadi di dalam usus tengah. Beberapa sel epitel usus tengah menghasilkan enzim- enzim, dan lain- lain mencerna makanan yang terserap. Kadang sekresi dan penyerapan dilakukan oleh sel- sel yang sama. Enzim- enzim mungkin dikeluarkan masuk ke dalam lumen usus tengah oleh peruraian (disintegrasi) sel- sel sekretoris (sekresi holokrin) atau oleh pengeluaran sejumlah kecil enzim- enzim melewati selaput sel (skresi merokrin).
Hanya sedikit serangga menghasilkan enzim- enzim yang mencerna selulosa, tetapi beberapa mampu menggunakan selulosa sebagai makanan akibat adanya mikroorganisme simbiotik dalam alat pencernaan. Biasanya mikroorganisme adalah bakteria atau protista berflagel, dapat mencerna selulosa, dan serangga menyerap produk- produk pencernaan ini. Mikroorganisme- mikroorganisme demikian ada di dalam rayap- rayap dan banyak kumbang- kumbang pembor kayu, dan seringkali ada di dalam organ yang khusus yang berhubungan dengan saluran pencernaan.
Badan lemak adalah organ yang seringkali agak tanpa bentuk yang ada di dalam abdomen dan toraks. Dalam banyak hal fungsinya analog dengan yang ada di hati vertebrata. Badan lemak berfungsi sebagai satu reservoir penyimpanan makanan dan adalah tempat yang penting untuk metabolisme perantara. Pada beberapa jenis badan lemak juga penting dalam ekskresi penyimpanan. Badan lemak biasanya berkembang bagus pada instar- instar nimfa dan larva. Menjelang akhir metamorfosisbadan lemak itu seringkali habis. Beberapa serangga dewasa yang tidak makan menahan badan lemak mereka dalam kehidupan dewasa.

II.2 SISTEM EKSKRESI
Sistem ekskresi primer seekor serangga terdiri dari sekelompok saluran bergeronggang yaitu buluh- buluh Malphigi, yang timbul sebagai penyembulan keluar pada ujung anterior usus belakang.
Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus yang berwarna putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut.
Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses.



II.3 SISTEM PEREDARAN DARAH
Sistem peredaran darah terdiri atas darah atau hemolimf, pembukuh dorsal dan homocoel (rongga darah). Pembuluh dorsal adalah pembuluh yang memanjang di daerah dorsal sepanjang tubuhnya, dari posterior ke arah anterior.
Pembukuh dorsal dibagi dua bagian :
o   Bagian posterior disebut jantung
o   Bagian anterior disebut aorta
Jantung letaknya di dalam rongga perikardial yang bentuknya membengkak pada setiap segmen sehingga membentuk kamar- kamar yang dipisahkan oleh lekukan. Pada tiap lekukan di bagian lateral jantung memiliki sepasang ostea (tunggal osteum) yang berklep untuk masuknya darah. Jantung merupakan bagian yang memompa darah sedangkan aorta merupakan tabung yang membawa darah ke depan ke arah kepala.
Sistem peredaran darah seekor serangga adalah sistem terbuka. Disebut demikian karena saat jantung berkontraksi dan sementara itu ostia tertutup oleh kelep yang ada, maka darah yang ada di jantung akan terdorong dan mengalir ke bagian depan tubuh melalui aorta, selanjutnya ke bagian kepala, dan kemudian secara bebas memasuki organ yang terdapat dalam rongga tubuh (homocoel). Darah yang terdapat dalam rongga tubuh tadi selanjutnya akan kembali lagi ke jantung melalui ostia.sebagian darah ada yang mengalir ke organ embelan dan sayap.
Fungsi utama darah pada serangga adalah untuk transportasi material berupa zat- zat makanan, hormon- hormon, sisa- sisa dan sebagainya. Jadi, tidak berfungsi untuk pengangkutan oksigen ke sel- sel tubuh sebagaimana halnya pada organisme lain.Plasma darah disebut hematocytes yang mengandung hemolimf yang berfungsi sebagai sel fagosit (untuk menetralisir benda asing).Fungsi lain dari darah adalah untuk koagulator, menyatukan sel- sel yang telah cerai- berai pada waktu serangga berganti kulit, menjaga tekanan osmosis yang optimal dari sel- sel tubuh da juga sebagai reservoir untuk air dan zat- zat makanan seperti lemak dan karbohidrat.
Peredaran darah serangga disebut lacunar system atau sistem peredaran terbuka, tidak memiliki rangkaian pembuluh. Darah berada dalam rongga tubuh atau hemocoel, cairannya disebut hemolimfa. Di dalamnya terdapat sel/senyawa yang melayang-layang, disebut hemosit. Hemosit asli berasal dari jaringan mesoderm, yang berasal dari jaringan ektoderm bukan merupakan hemosit asli. Hemolimfa merupakan cairan berisi hemosit. Bila hanya cairannya saja, maka disebut serum (tanpa sel/hemosit). Cairan ini berperan dalam melakukan mekanisme ketahanan tubuh serangga.
Satu-satunya pembuluh yang terdapat dalam tubuh serangga adalah pembuluh dorsal, padanya terdapat lubang-lubang kecil yang disebut ostia, berfungsi untuk masuknya darah dan oleh adanya denyutan akan terjadi aliran darah ke dalam (incurrent flow). Pada bagian yang agak ke arah anterior kadang-kadang terdapat excurrent ostia, sehingga sering juga disebut bahwa bagian anterior adalah ostia sedang posteriornya "jantung". Tetapi sesungguhnya ini menerangkan suatu bangunan tunggal, yang berbeda hanya pada arah aliran darah pada ostianya. Pada ujung depan pembuluh, secara sangat strategis terletaklah corpora allata dan corpora cardiaca. Sementara itu terdapat pula otot-otot yang berujung-pangkal di pembuluh, yang disebut sebagai otot-otot alaria (alary muscles), yang menyerupai sayap. Ini merupakan otot yang membantu kontraksi jantung -- fase relaksasi atau diastole dan fase kontraksi atau sistole.
Jantung serangga bersifat neromiogenik, artinya kontraksinya tidak hanya secara otomatis karena adanya otot, namun juga karena adanya rangsang yang diterima syaraf. Inilah yang memperlancar peredaran. Pada serangga besar, gerakan sayap atau alat tambahan lain secara fisik juga ikut membantu peredaran.
Darah serangga mengandung asam amino konsentrasi tinggi (bukan protein), sedang karbohidrat dalam bentuk trehalosa. Sedang lemak dalam bentuk senyawa ester digliserida.
Hemolimfa berfungsi utnuk mengendalikan pH dan tekanan osmotik dengan berbagai mekanisme. Pada umumnya tak berwarna, tetapi ada juga yang berwarna hijau atau merah. Pigmen dengan mudah diabsorbsi, karenanya serangga-serangga fitopagus umumnya berhemolimfa hijau. Apabila makanannya berkandungan -karotin tinggi, warnanya jingga-oranye, bercampur dengan warna asli yang kebiru-biruan muncul warna hijau. Diet tanpa -karotin menunjukkan hemolimfa serangga tetap berwarna biru.
Fungsi lain yang juga penting adalah kandungan hemositnya yang berguna untuk metabolisme dan juga ketahanan tubuh. Dalam hal ini hemosit berperan untuk mensintesis beberapa produk penting: bahan sklerotisasi, tirosin dll.
Jenis hemosit ada beberapa macam (sekitar 9 jenis, tergantung penulis/ahlinya). Ada yang menyatakan semuanya berasal dari satu sel yang disebut sel induk atau "stem cell" (prohemosit). Masing-masingnya adalah:
- Sel induk atau pro-hemosit, berbentuk bulat dengan nukleus besar, dihasilkan oleh organ tertentu pada tubuh serangga yang disebut organ HAEMOCYTOPOIETIC (setara dengan tulang sumsum pada mammalia). Organ sesungguhnya belum ditemukan. Mungkin dengan mitosis. Prohemosit ada yang bergerak aktif, ada yang diam di tempat.
- Plasmatosit memiliki ujung seperti jari. Ukurannya agak besar, barangkali karena merupakan keturunan pertama prohemosit. Berfungsi penting dalam mekanisme ketahanan tubuh, sebagai agen kekebalan seluler. Dapat bersifat fagositik terhadap benda-benda asing apabila bendanya lebih kecil. Bila bendanya lebih besar akan diselubungi oleh suatu jaringan penghubung (konektiva) yang dibentuk oleh plasmatosit. Ini disebut enkapsulasi.
- Hemosit granuler mungkin merupakan bentuk terminal (akhir), karena banyak dijumpai pada serangga-serangga "tua". Juga berfungsi dalam mekanisme pertahanan diri.
- Koagulosit dihasilkan oleh serangga-serangga yang terluka untuk membentuk gel darah, agar sistem peredaran tidak kacau. Merupakan bahan sekresi seperti serabut (fibril).
- Adipohemosit merupakan penyimpan lemak bahan makan (setara dengan badan lemak).
- Oenositoid dan Sel sferula belum diketahui fungsinya dengan jelas. Demikian juga Podosit dan Hemosit vermiform yang dijumpai pada genus Spodoptera.